Abu Yazîd mendengar keberadaan seorang wali. Iapun mendatanginya untuk berziarah. Ketika sampai ia melihat wali yang dimaksud meludah ke arah kiblat. Melihat hal itu, Abu Yazîd segera kembali dan tidak jadi menemuinya. Ia berkomentar, “Orang ini tidak menjaga salah satu sunnah, bagaimana ia akan dipercaya untuk menjaga rahasia kewalian. Ketidaksalehan lahiriahnya menjadi petunjuk atas ketidaksalehan batinnya. Pasalnya, sisi lahir menjadi petunjuk tentang sisi batin. Siapa yang tidak mampu menjaga aspek lahiriah syariat bagaimana mungkin bisa beribadah dengan aspek batiniah tarekat.
Karena itu, kaum arif berkata, “Tanda sehatnya kondisi hati adalah istikamah dalam perilaku dan amal perbuatan.” Abu Sa’îd al-Kharrâz ra berkata, “Setiap batin yang ditentang oleh sisi lahir adalah batil.”
Ucapan di atas menunjukkan bahwa batin yang baik adalah yang disertai baiknya lahir. Ketika kalbu bersih, cahayanya akan memancar kepada tubuh. Petunjuk yang paling utama adalah menjaga waktu, selalu melaksanakan salat secara berjamaah, menjaga indera dari sesuatu yang sia-sia, menyuruh kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, mengasihi makhluk, berpaling dari dunia, menunjukkan akhlak yang baik kepada semua orang dengan memperlakukan setiap orang sesuai kedudukannya, membalas keburukan dengan kebaikan, menyambung hubungan dengan orang yang memutuskannya, memberi kepada yang kikir, serta memaafkan orang yang berbuat zalim kepadanya.
Jika ada yang berbuat buruk kepadanya atau melakukan perbuatan tercela, ia mendoakan pelakunya dengan berkata, “Ya Allah berikan petunjuk kepada Fulan sebab ia tidak mengetahui.” Hal itu mencontoh karakter Nabi saw; sosok terbaik dalam menuntun kepada kebenaran di mana seperti diketahui orang-orang kafir telah membuat kepala beliau terluka dan gigi beliau tanggal. Karenanya, para sahabat berujar, “Doakan mereka binasa wahai Rasulullah!” Namun beliau malah berdoa, “Ya Allah, berikan petunjuk kepada kaumku karena mereka tidak mengetahui.” (HR ad-Daylami)
Perbuatan ini bersumber dari kondisinya yang telah mencapai kesempurnaan tauhid. Suatu ketika seorang tentara memukul kepala Ibrâhîm ibn Adham ra. ketika mengetahui bahwa yang dipukul adalah Ibrâhim ibn Adham, tentara tadi segera mencium tangannya dan meminta maaf. Namun, Ibrâhîm malah berkata, “Ketika pertama kali memukulku aku sudah mendoakan kebaikan untukmu.”
“Mengapa bisa demikian?”
“Sebab engkau telah menjadi sebab bagi masuknya diriku ke dalam sorga dengan perbuatan ini. Karenanya, aku tidak mau menjadi sebab yang mengantarmu ke dalam neraka.” Tentara itu baru paham ketika mendengar ucapan Ibrâhîm ibn Adham ra.
Wahai saudaraku, perhatikanlah ucapan yang keluar dari sang arif di atas. Andaikan ia berkata kasar, tentu takkan mendapatkan anugerah semacam itu. Oleh sebab itulah Allah menggambarkan Nabi-Nya dengan barkata, “Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan yang ada.” (QS Ali Imran: 159)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa tidak bersikap kasar, memaafkan saudara, memberikan ampun kepada mereka, serta mengajak mereka bermusyawarah termasuk akhlak terpuji yang dimiliki Muhammad saw yang menunjukkan agungnya kedudukan orang yang berhiaskan akhlak tersebut.
Wahai saudaraku, berusahalah untuk mengikuti sosok yang kilau kemuliaan akhlak tersebut memancar darinya. Berkumpullah dengan kelompoknya serta hendaknya engkau senantiasa berada di sisinya baik di waktu pagi maupun petang. Janganlah mendekati orang yang sejumlah bukti menunjukkan kepalsuannya, lalu keluar mengajari manusia sebelum menerima karunia-Nya.
Ibn Alan
1 komentar:
saya suka, bagus esensinya
Posting Komentar